
Bom yang tadi pagi meledak di Hotel Ritz Carlton dan JW Marriott tampaknya berbeda dengan bom-bom yang selama ini digunakan para teroris kelompok Amrozi dan kawan-kawan. Perbedaan yang mencolok adalah lokasi ledakan.
Dalam berbagai ledakan sebelumnya, termasuk yang terjadi di Hotel JW Marriott tahun 2003 lalu, lokasi peledakan ada di luar target. Saat bom Marriott 2003 misalnya, bom meledak di lapangan parkir. Begitu pula saat ledakan di kedutaan besar Australia tahun 2004. Saat itu, bom meledak di jalan di depan kedutaan.
Namun kali ini, kedua bom berhasil diselundupkan ke dalam kawasan hotel yang sebetulnya dijaga ketat. Di Marriott, bom meledak di area restoran hotel, seperti halnya juga bom di Ritz Carlton yang meledak sekitar 10 menit kemudian.
Jenis ledakan juga tampak berbeda. Dalam bom-bom yang digunakan oleh kelompok Amrozi dkk, bom yang digunakan adalah jenis yang meluncurkan serpihan pelor besi dan menimbulkan kebakaran. Sebaliknya, bom yang tadi pagi meledak tidak menimbulkan kebakaran, namun dengan efek yang sama mematikannya.
Masih misteri bagaimana kedua hotel yang pengamanannya tergolong ketat itu bisa kebobolan. Sejak peristiwa pengeboman tahun 2003, Marriott dan semua hotel mewah di Jakarta sangat memperketat pengamanan. Pengamanan itu makin diperketat saat menjelang dan selama Pemilu lalu. Maka siapa pun pengebomnya, dia pasti sangat cerdik sehingga petugas kebobolan.
Tak hanya cerdik. Pengebom juga sangat bengis dalam memperhitungkan efek ledakan. Tampak jelas bahwa pengebom mengincar target korban manusia sebanyak mungkin. Ini terlihat dari peletakan bom di area restoran kedua hotel. Pengebom sudah memperhitungkan bahwa pada jam 8 pagi, saat bom meledak, pengunjung pasti sebagian besar sedang berkumpul di restoran untuk sarapan. Perhitungan yang sangat tepat, karena sampai jam 10 pagi ini, jumlah korban tewas sudah enam orang dan puluhan lainnya luka berat.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar